“Si Binatang Jalang”, julukan bagi Chairil Anwar dari karyanya yang
berjudul Aku, beliau adalah penyair terkemuka di Indonesia. Diperkirakan beliau
telah menulis kurang lebih 240 karya. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin beliau
dinobatkan sebagai pelopor angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Banyak orang yang menganggap kehidupan Chairil Anwar ini berantakan, penulis
pun beranggapan seperti itu. Bagaimana tidak dilihat dari latar belakang
kehidupannya beliau lahir dari keluarga yang berada, bahkan beliau diperlakukan
manja karena beliau adalah anak tunggal, namun beliau masih cenderung keras
kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun. Akan tetapi kehidupan keluarganya
tetap saja berantakan. kedua orang tuanya berpisah kemudian beliau tinggal
bersama ibunya di Batavia (yang sekarang menjadi jakarta) dan beliau mulai
berkenalan dengan dunia sastra sekitar tahun 1940.
Dari banyaknya karya yang telah diciptakan oleh Chairil Anwar penulis
ingin memaknai salah satu dari karya-karya beliau yang berjudul “Aku”. Menurut
penulis makna yang terkandung dalam puisi Aku sangat menarik dan indah.
“Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau”
Seperti pada bait pertama yang memiliki makna bahwa beliau ingin
membuang semua kekhawatirannya akan kematian. Dan juga tidak peduli terhadap
siapa pun yang merayunya, bahkan tidak juga kekasihnya sendiri.
“Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan yang terbuang”
Bait kedua memiliki makna bahwa beliau memberikan pesan kepada
orang-orang terdekatnya supaya melepaskannya, jika saatnya untuk menghadap sang
khalik telah tiba. Bahkan beliau menyebut dirinya sebagai binatang jalang,
sebagai simbol kehinaan dirinya.
“Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang”
Bait ketiga terdapat makna bahwa beliau telah berterus terang tentang apa
yang telah di deritanya, akan tetapi beliau tetap mencoba untuk menanggungnya
sendiri. Karena jika saatnya tiba rasa sakit yang di derita nya akan hilang.
“Luka dan bisa ku bawa berlari
Hingga hilang pedih perih”
Di bait terakhir beliau mengatakan bahwa beliau ingin hidup seribu tahun
lagi. Artinya beliau ingin semua karyanya hidup selamanya walau pun kini beliau
tlah tiada.
“Dan aku akan lebih tidak
perduli
Aku mau hidup seribu tahun
lagi”
Jadi pada intinya puisi aku mengandung makna pengekspresian seorang
pemuda yang kental sekali dengan emosionalnya menyatakan tegas dan lantang
bahwa beliau ingin sekali hidup lebih lama lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar