Jumat, 28 Februari 2014

 Ragam Makna

·        Denotasi:  merupakan makna lugas, yaitu yang langsung menunjuk pada benda atau suatu referen tertentu (makna leksikal, koseptual, dan denotatif)
·        Konotasi: merupakan makna kias, yaitu makna yang tidak menunjuk pada arti sebenarnya.
·        Gramatikal:  merupakan makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal.
·        Laksikal: merupakan makna yang bersifat leksikon, leksom, atau kata. Makna yang sesuai dengan referen dan hasil observasi kita.
·        Homonim: kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yg berlainan
·        Homofon: kata yang sama lafalnya dengan kata lain, tetapi berbeda ejaan dan maknanya.
·        Homograf: kata yang sama ejaannya dengan kata lain, tetapi berbeda lafal dan maknanya.
·        Hiponim: hubungan antara makna spesifik dan makna generik atau antara anggota taksonomi dan nama taksonomi, misal kucing, anjing, kambing disebut hiponim dari hewan
·        Hipernim: bentuk bahasa (kata, frasa, dsb) yang mempunyai makna lebih dari satu
·        Polisemi: bentuk bahasa (kata, frasa, dsb) yang mempunyai makna lebih dari satu.
·        Asosiasi : tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra.
Ø  Majas
·        Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Majas sendiri terdiri dari 4 jenis dan dibagi lagi menjadi beberapa jenis, berikut adalah rinciannya;

o   Majas perbandingan
1.      Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2.      Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3.      Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".
4.      Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
5.      Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6.      Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
7.      Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8.      Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9.      Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10.  Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11.  Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12.  Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13.  Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
14.  Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15.  Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16.  Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17.  Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
18.  Disfemisme: pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19.  Fabel: menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20.  Parabel: ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21.  Perifrasa: ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22.  Eponim: menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23.  Simbolik: melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
24.  Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
o   Majas sindiran
1.      Ironi: sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
2.      Sarkasme: sindiran langsung dan kasar.
3.      Sinisme: ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4.      Satire: ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5.      Innuendo: sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
o   Majas penegasan
1.      Repetisi: perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
2.      Pararima: pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
3.      Aliterasi: repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
4.      Paralelisme: pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
5.      Tautologi: pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
6.      Sigmatisme: pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
7.      Antanaklasis: menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
8.      Klimaks: pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
9.      Antiklimaks: pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
10.  Inversi: menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
11.  Retoris: ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
12.  Elipsis: penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
13.  Koreksio: ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
14.  Polisindenton: pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
15.  Asindeton: pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
16.  Interupsi: ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
17.  Eksklamasio: ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
18.  Enumerasio: ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
19.  Preterito: ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
20.  Alonim: penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
21.  Kolokasi: asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
22.  Silepsis: penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
23.  Zeugma: silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar