·
Denotasi:
merupakan makna lugas, yaitu yang langsung menunjuk pada benda atau
suatu referen tertentu (makna leksikal, koseptual, dan denotatif)
·
Konotasi: merupakan makna kias, yaitu
makna yang tidak menunjuk pada arti sebenarnya.
·
Gramatikal: merupakan makna
yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal.
·
Laksikal: merupakan makna yang bersifat leksikon, leksom, atau kata. Makna
yang sesuai dengan referen dan hasil observasi kita.
·
Homonim: kata yang sama lafal dan ejaannya,
tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yg berlainan
·
Homofon: kata yang sama lafalnya dengan kata lain, tetapi berbeda ejaan dan
maknanya.
·
Homograf: kata yang sama ejaannya dengan kata lain, tetapi berbeda lafal dan
maknanya.
·
Hiponim: hubungan antara makna spesifik dan makna generik atau antara
anggota taksonomi dan nama taksonomi, misal kucing, anjing, kambing disebut
hiponim dari hewan
·
Hipernim: bentuk bahasa (kata, frasa, dsb) yang mempunyai makna lebih dari
satu
·
Polisemi: bentuk bahasa (kata, frasa, dsb) yang mempunyai makna lebih dari
satu.
·
Asosiasi : tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain; pembentukan
hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra.
Ø Majas
·
Majas
atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri
bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan
perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Majas sendiri terdiri dari 4 jenis
dan dibagi lagi menjadi beberapa jenis, berikut adalah rinciannya;
o
Majas perbandingan
3.
Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang
dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan,
" umpama", "ibarat","bak", bagai".
4.
Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda
dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
5.
Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk
lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6.
Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang
dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
9.
Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk
benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga
kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku
manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa
kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
o
Majas sindiran
1.
Ironi: sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan
mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
3.
Sinisme: ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan
terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4.
Satire: ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk
mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
o
Majas penegasan
8. Klimaks: pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari
yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
9. Antiklimaks: pemaparan pikiran atau hal secara
berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang
sederhana/kurang penting.
12.
Elipsis: penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan
normal unsur tersebut seharusnya ada.
13.
Koreksio: ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau
kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
22. Silepsis: penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu
makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
23. Zeugma: silepsi dengan menggunakan kata yang tidak
logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga
menjadi kalimat yang rancu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar